Muh Barid NIzarudin Wajdi
Haji, sebagai salah satu rukun Islam, memang diperuntukkan bagi mereka yang mampu secara finansial. Namun, kemampuan itu ternyata belum cukup bila Allah belum memberikan izin. Ada banyak orang kaya yang bisa membeli hampir apa saja, termasuk tiket haji furoda yang harganya berkisar antara 373,9 juta hingga 975,3 juta. Tetapi, tahun ini, uang semahal itu tak cukup membuka pintu Tanah Suci.

Angka Rp 975.300.000 cukup untuk membeli rumah kecil di pinggiran Jakarta, sebuah Alphard baru, atau menyekolahkan anak ke Jerman sambil menikmati liburan di Swiss. Tapi, tahun ini, angka itu hanya berakhir sebagai tiket menuju Tanah Harapan yang tidak pernah tercapai, Tanah Suci yang menutup pintunya dengan sunyi.
Haji furoda, sebuah jalur istimewa dengan undangan khusus dari Kerajaan Arab Saudi. Bukan kuota reguler atau haji plus, ini adalah tiket bagi mereka yang tak ingin menunggu antrean puluhan tahun, yang ingin mempercepat perjalanan spiritual mereka dengan harga mahal dan eksklusif. Namun, ternyata surga bukan seperti konser Coldplay, yang bisa membeli tiket VIP hanya dengan saldo rekening yang mengesankan.
Ketua Umum Himpuh, Muhammad Firman Taufik, mengatakan bahwa biaya haji furoda tahun 2024 berkisar antara Rp 373,9 juta hingga Rp 975,3 juta. Sementara haji plus dimulai dari Rp 159,7 juta. Dari segi fasilitas, tentu saja ada perbedaan: hotel dekat Masjidil Haram, makanan halal berkualitas tinggi, dan pengalaman spiritual yang lebih eksklusif. Namun, apa arti semua itu ketika pintu langit menutup rapat tanpa pemberitahuan, menjadikan mimpi-mimpi itu hanya sebagai kenangan dalam koper berkelas.
Arab Saudi memutuskan untuk menutup penerbitan visa furoda tanpa memberi penjelasan atau klarifikasi. Seperti pacar yang tiba-tiba menghilang setelah bertahun-tahun bersama, kejadian ini menjadi sebuah misteri. Direktur Jenderal PHU, Hilman Latief, mencatat bahwa dari 203.320 kuota haji reguler, hanya 203.279 visa yang terbit, sementara sisanya hilang tanpa jejak. Bahkan 41 visa yang sudah “dalam proses” pun dicoret dari daftar.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa ini bukan hanya masalah Indonesia. Negara lain pun mengalami nasib serupa, menjadikan penutupan visa ini sebuah fenomena global. Betapa adilnya Tuhan, yang menampar semua kalangan tanpa membedakan status sosial dan kekayaan. Semua jemaah, kaya atau miskin, diperlakukan sama oleh-Nya.
Namun, jangan salahkan pemerintah. Komnas Haji menegaskan bahwa ini murni soal bisnis. Salah sendiri jika terlalu berharap pada sistem yang lebih banyak menjual janji ketimbang kepastian. Salah jika menganggap uang bisa membeli apapun, bahkan ibadah yang seharusnya dilaksanakan dengan hati yang tulus. Salah jika mengira visa haji adalah hak yang bisa dibeli dengan uang.
Lihatlah para jemaah furoda yang gagal berangkat. Wajah kecewa mereka, koper premium, dan ihram impor yang tak pernah tersentuh debu Arafah. Mereka pulang dengan tangan kosong, bukan membawa oleh-oleh Zamzam, tetapi dengan beban mental yang setara dengan harga tiket haji furoda. Sementara di kampung, Pak Dullah, seorang penjual es tebu yang telah 17 tahun mengais rezeki di pasar, justru berhasil berangkat haji melalui jalur reguler dengan sandal swallow, doa ibu, dan air mata penuh ketulusan.
Inilah kenyataan dari ibadah haji yang tidak bisa dicicil. Panggilan haji bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan emas, atau dipermudah dengan kontrak legal. Visa haji hanya dapat terbit ketika Allah berkenan. Sebab, Allah tidak bisa disuap. Surga tidak bisa dibeli dengan uang. Ka’bah tidak bisa dipesan melalui agen perjalanan yang menjanjikan “jalur cepat ke akhirat.”
Tahun ini, kegagalan haji furoda bukan sekadar tidak berangkat. Lebih dari itu, ia gagal membuktikan bahwa uang adalah segalanya. Sebab, di hadapan Allah, saldo rekening tidak lebih penting daripada niat yang tulus. Visa langit, sayangnya, tidak bisa dicetak dari mesin ATM.
Barid Nizar Break Your Limit