KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan anak pertama dari 15 orang anak dari pasangan KH. Hasyim Asyari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas.
?Beliau lahir di Jombang, pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, atau 1 Juni 1914 M
❤️ Pada usia sekitar 25 tahun beliau menikahi seorang gadis yang berumur 15 tahun, yaitu Solichah binti KH. Bisyri Syamsuri seorang pendiri dan pemimpin Pesantren Denanyar, Jombang serta salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dan pernah juga menjadi Rais Aam PBNU.
?Dari perkawinan ini Wahid Hasyim dikaruniai enam anak putra dan putri, diantaranya Abdurrahman ad-Dakhil (Gus Dur).
❤️ Beliau memulai pendidikanya dengan belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, atau setelah selesai dari di bangku madrasah, beliau diminta oleh ayahnya untuk membantu mengajar adik-adiknya dan anak-anak seusianya.
❤️ Pada usia 13 tahun beliau melajutkan pendidikannya ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Dari Siwalan pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
❤️ Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda.
❤️ Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, beliau kembali melanjutkan pendidikannya ke Mekkah.
?Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas, yang kelak menjadi Menteri Agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Wahid Hasyim sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas.
❤️ Di tanah suci ia belajar selama dua tahun.
❤️ Pada usia 24 tahun (1938), Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah.
❤️ Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini kariernya terus meningkat sampai Ma’arif NU pada tahun 1938.
? Setelah NU berubah menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950. Di kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama mencoba ikut memasuki trace baru bersama-sama organisasi sosial modern lainnya, sepeti Muhammadiyah, NU juga membentuk sebuah federasi politik bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lebih banyak di dorong oleh rasa bersalah umat Islam setelah melihat konsolidasi politik kaum nasionalis begitu kuat.
❤️Pada tahun 1939, ketika MIAI mengadakan konferensi, Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua.
❤️ Tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhnya ditangani oleh KH. A Kahar Mudzakir. Tahun berikutnya, 1945, Wahid Hasyim aktif dalam dunia politik dan memulai karir sebagai ketua II Majelis Syura (Dewan Partai Masyumi). Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri.
❤️ Ketika Muktamar ke-19 di Palembang Wahid Hasyim dicalonkan sebagai Ketua Umum, namun ia menolaknya, dan mengusulkan agar KH. Masykur menempati jabatan sebagai Ketua Umum.
❤️ Namun berhubung KH. Masykur diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin, maka NU menonaktifkan KH. Masykur selaku ketua umum, dan dengan demikian maka Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Ketua Umum.
❤️ Disamping sebagai Ketua Umum PBNU, Wahid Hasyim menjabat Shumubucho (Kepala Jawatan Agama Pusat) yang merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam.
❤️ Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Desember 1949, Wahid Hasyim diangkat kembali menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta. Kemudian, pada periode Kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman, Wahid Hasyim tetap memegang jabatan Menteri Agama.
❤️ Demikian juga, sebelum itu, dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946, Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.
❤️ Pada tahun 1952 Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa al-Irsyad.
❤️ Tokoh Muda BPUPKI
Karier Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal dengan BPUPKI. Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda.
❤️ Wafat Tanggal 19 April 1953 akibat dari sebuah kecelakaan.
❤️ Atas wafatnya KH. Abdul Wahid Hasyim, maka berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, karena mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya beliau turut berjuang sampai kemerdekaan nusa dan bangsa.
Barid Nizar Break Your Limit